Selasa, 24 Februari 2015

Perencanaan keuangan tidak diperlukan sama sekali


Pengelolaan keuangan keluarga bukan sesuatu yang menarik.
Fakta … berdasarkan pengalaman saya selama ini.

Jadi jika ada yang tertarik / concern tentang perencanaan atau pengelolaan keuangan keluarga … berarti anda termasuk minoritas …. tidak mengikuti main stream.

Tapi ini memang kondisi di negara berkembang …. jadi kalau begitu apakah bisa disimpulkan bahwa yang concern terhadap pengelolaan keuangan adalah mereka yang telah step a head.

Terserah apa kesimpulannya … yang lebih penting, diharapkan kaum minoritas ini dapat “menularkan”  pengetahuannya kepada yang lainnya, sehingga semakin banyak yang memiliki kondisi finansial yang sehat dan kuat, tidak hanya masa kini tapi juga untuk masa depan.  Keuangan keluarga yang kacau dan hancur .. bisa membebani keluarga inti dan bahkan bisa menjadi beban sosial masyarakat.

Memiliki income yang lebih baik dan tidak terlilit hutang … menjadi keinginan banyak orang.
Saya yakin kedua hal ini .. sangat sangat menarik.

Berdasarkan traffic yang masuk ke blog ini, ternyata ada 2 topik yang sangat… sangat menarik …. yaitu menjalankan Small Business dan Terjerat Hutang.. waduhhh.

Senin, 17 Maret 2014

FREE – Financial Knowledge Sharing


Berdasarkan pengamatan dan pengalaman para ahli ternyata ilmu ilmu canggih yang kita miliki dari pendidikan yang selam ini kita jalani terutama dari SD sampai universitas tidak menjamin kesuksesan dalam kehidupan.

Untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan, ternyata ada beberapa keahlian dasar yang harus kita miliki. Beberapa keahlian dasar (basic skill) yang harus dikuasai untuk menjadi pribadi yang maju antara lain :
Self Knowledge Skills, Problem Solving, Communication, Living Skills, Managing Money, Relationship Skills.

Karena saya hanya memiliki sedikit knowledge dan skill dibidang managing money, maka ingin berbagi ilmu kepada pihak yang membutuhkan yang memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik terutama di bidang pengelolaan keuangan keluarga.

Mengelola keuangan kelihatannya mudah tapi kenyataanya banyak keluarga yang kondisi keuangannya tidak baik. Kesadaran dan akses mendapatkan pengetahuan tentang keuangan masih sedikit. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan, tingkat “melek keuangan” bangsa Indonesia sangat rendah.

Sudah selayaknya pengetahuan pengelolaan keuangan ini dimiliki dan dikuasai oleh orang sebanyak banyaknya. Jika kondisi keuangan keluarga membaik maka kita bisa saling tolong menolong dan membantu orang lebih banyak lagi.

Kamis, 13 Maret 2014

Cukupkah Dana Pensiun kita dengan mengandalkan Tunjangan Hari Tua berdasarkan UU Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003


Tulisan ini dibuat untuk menggambarkan Dana Pensiun yang akan kita terima nanti, jika perusahaan membayar dana pensiun / tunjangan hari tua sesuai aturan yang berlaku saat ini yaitu UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”).

Jika kita sekarang bekerja dengan gaji 6 jutaan dan masa pensiun  15 tahun lagi, berapa kira kira uang yang akan diterima pada saat pensiun (jika perusahaan mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah ) ? 100 juta ? 200 juta 300 ? 500 juta ?

Untuk memudahkan pemahaman, maka kita lihat kasus ini.

Pak Surono bekerja di suatu perusahaan swasta kelas menengah dari tahun 2006 sejak usia 28 tahun.
Surono adalah tipikal seorang pekerja keras dan loyal terhadap perusahaan. Pergi pagi pagi dan pulang malam malam .. dedikasinya penuh untuk membuat perusahaan tempat dia bekerja maju.

Di tahun 2014 gaji plus tunjangan tetapnya sebesar Rp. 6,5 juta/bulan.
2 tahun kemudian (2016) naik menjadi supervisor dengan income menjadi Rp. 9 jt/bln.
3 tahun kemudian, karena kinerjanya bagus, Surono di  angkat menjadi manager dengan gaji Rp. 15,5 jt.

Dan … sampai masa pensiun di usia 55 di tahun 2033, Surono tetap menjadi manager. Dengan income terakhir.
     Gaji pokok Rp. 17,5 jt
     Tunj Tetap Rp. 5,945 jt
     Tunj tidak tetap Rp. 2,5 juta
     Sehingga take home pay per bulan Rp. 25,945 juta.

Pada saat pensiun, Perusahaan tempat dimana pak Surono bekerja, memberikan tunjangan Hari Tua sesuai peraturan pemerintah dan di bayarkan sekaligus.

Jumat, 07 Maret 2014

Tips ... LANGKAH PERTAMA Berhemat


Berhemat … kata yang mudah di ucapkan tapi sulit dilakukan.
Banyak cara tips tips untuk berhemat tapi tetap saja boros.

Coba check … apakah tabungan kita setelah bertahun tahun .. bertambah secara significant atau sama saja atau bahkan berkurang …. hiks ..
Berkesan hidup hanya untuk saat ini saja .. masa depan … bagaimana nanti saja

Kondisi seperti itu jika dialami oleh yang memiliki income sangat minim … lumrah. Tapi ternyata banyak juga dialami oleh yang memiliki income yang bisa dikatakan kelas menengah ke atas.
Penampilan luarnya boleh keren, menenteng gadget terbaru, baju keren, mobil baru .. dalamnya (finansial) keropos. Atau ada orag bilang .. Life style-nya di atas kelas income-nya, seperti income kelas C tapi life style kelas A.

Kondisi sekarang memang membentuk seperti itu. Kita di kepung oleh iklan di tv, internet, radio, billboard, poster, koran, flyer dll.
Di sepanjang perjalanan kita ke kantor, pulang dari kantor, dirumah. Pesannya hanya satu … beli ! Membujuk untuk belanjakan uang kita. Apalagi dengan embel embel ; diskon, sales .. clearance sales, big sales, obral gede, jumbo sales, hot sale, dll-nya.

Selasa, 20 Agustus 2013

Tidak Ada Bisnis yg besar tanpa rencana ... Bagaimana dengan dengan keluarga ....?

Masa depan itu penting. Kita menginginkan masa depan yang lebih baik.
Logikanya memang begitu … tapi secara tindakan belum tentu ..

Dari survey kecil2-an ke 16 responden. Tidak ada satupun yang membuat perencanaan masa depan untuk pribadi atau keluarganya .. perencanaan secara tertulis …. bukan hanya ada di kepala atau pernah memikirkannya.

Padahal beberapa dari yang disurvey adalah konsultan bisnis perusahaan dan praktisi level manajemen. Yang bagi mereka perencanaan itu sangat mutlak dan penting untuk mencapai tujuan tujuan dimasa depan.  Bisnis / Perusahaan tidak akan maju jika dibiarkan mengalir seperti air begitu saja.

Tapi untuk masa depan keluarga sendiri .. tidak ada yang betul betul membuat suatu perencanaan … apalagi tertulis. Sedangkan untuk keluarga sendiri yang dicintai dibiarkan mengalir begitu saja.

Tanya kenapa … ? Banyak sebab2-nya, salah satunya mungkin karena bingung bagaimana untuk memulainya.

Membuat perencanaan keuangan keluarga, memang agak sedikit bingung .. bagaimana memulainya dan bagaimana mencapainya. Kadang memang untuk membuat perencanaan untuk orang/pihak lain bisa lebih mudah … sedangkan untuk pribadi sangat sulit .. seperti ada block ..

Untuk memudahkan memahami membuat perencanaan keuangan keluarga, mungkin lebih mudah jika kita lihat contoh kasus keluarga Bp Tomas (nama dan kondisi bukan yang sebenarnya tapi sesuai dengan kasus yang sering terjadi).

Bapak Tomas usia 37 tahun.
Bekerja di perusahaan swasta di bagian pemasaran.
Income nett-nya sebulan Rp. 10,750 juta.

2 orang anak, Budi kelas 1 SMP dan Wati kelas 4 SD.
Istrinya tidak bekerja, jadi ibu RT saja.
Belum memiliki rumah masih menumpang di mertua.
Memiliki 1 buah motor yang dipergunakan untuk pergi kerja.
Medical keluarga selama bekerja di tanggung perusahaan.
Saat pensiun, medical tidak di tanggung lagi.
Total tabungan dan deposito di bank 43 jt
Memiliki emas lantakan 24 gr

Pengeluaran rutin bulanan sekitar 6,2 juta, jika sedikit hemat bisa di 5,750 juta.
Cicilan perbulan Rp. 1,250 jt dan tersisa 12 kali lagi.
Memiliki asuransi Pendidikan untuk Budi dengan premi Rp 300 ribu/bulan
dengan estimasi nilai tunai pada saat Budi kuliah sebesar Rp. 25 juta.
Dan asuransi jiwa a.n. pak Tomas dengan premi Rp. 500 ribu/bln dengan benefit UP Jiwa Rp. 150
juta dan UP kecelakaan. Dan estimasi nilai tunai saat pensiun Rp 170 juta.


Menurut pak Tomas target yang ingin dicapai :
Punya rumah sendiri, seharga 450 juta, paling tidak dalam 5 tahun kedepan.
Memiliki mobil untuk keluarga, cukup seken aja, Rp. 90 juta, paling tidak 1 atau 3 tahun lagi.
Untuk sekolah SMP sampai SMA cukup yang gratis atau negeri saja yang ekonomis.
Sedangkan Perguruan Tinggi yang di targetkan anaknya kuliah disana, saat ini menetapkan uang masuknya Rp. 50 juta.
Ingin jalan jalan liburan besar paling tidak setahun sekali .. keluar kota bersama pada saat liburan sekolah.
Naik haji sebelum pensiun
Pensiun ingin hidup berkecukupan dan tidak menyusahkan anak yang belum tentu pada saat nanti kondisi Keuangan anaknya baik.

Kamis, 25 April 2013

Lika Liku …. dihutangi




Ehhh …. tahunya mau pinjam uang.
Teman lama yang tiba tiba telepon ngajak ketemuan … nostalgia ngalor ngidul … ujungnya tampang sedih … cerita sedih ..

Kalau si ini telepon .. pinjem uang deh ..

Macam macam, cerita tentang orang yang berhutang.

Dihutangi itu tahunya complicated juga .. kadang sulit nolaknya … apalagi teman/saudara dekat, kisahnya begitu miris lagi, apalagi disampaikan dengan penghayatan .. tapi ternyata kesulitannya belum juga beres … jauh lebih sulit lagi menagihnya …

Bagi penghutang dan yang dihutangi ; ngutang itu lebih baik dari pada minta uang .. hehe

Dari berbagai macam cerita pilu yang disampaikan, kalau dipilah pilah, orang berhutang karena :
     - Memenuhi kebutuhan hidup sehari hari/bulanan
          beli makanan, bayar listrik, dll
     - Kebutuhan gaya hidup
          beli gadget terbaru sudah ngebet banget mumpung lagi promo
     - Kebutuhan dadakan dan emergency, biasanya jumlah besar
          masuk rumah sakit, genteng bocor
     - Untuk bayar hutang yang lain
          Klasik …. gali lubang tutup lubang
     - Tidak bawa duit cukup
          pinjam bayarin makan siang, ongkos ojeg, dll

Kalau hutang recehan sih .. cincai aja, meski tidak dibalikkan juga .. keterluan juga ya .. ngutang receh aja tidak dibalikkan juga.

Kalau dihutangi yang nominalnya besar … kerasa juga, apalagi pas kita lagi butuh duit banget .. uang punya tapi uangnya di orang lain, ditagih sulit banget .. apa meski jadi kita yang ngutang .. hiks.

Rabu, 31 Oktober 2012

Cara Cerdas Menentukan Gaji dari Bisnis Sendiri



Bisnis skala kecil dan menengah umumnya masih sulit mengatur keuangan harian dan bulanannya. Karena umumnya masih dikelola dengan sistem dan manajemen yang belum teratur. Kadang dana untuk menjalankan bisnis terganggu atau seret karena terpakai untuk kebutuhan yang tidak kalah penting yaitu kebutuhan rumah tangga.

Dan pada saat ada pemasukan banyak dari bisnis yang dijalankan, jadi merasa ada banyak uang sehingga tidak terkontrol, dipergunakan untuk keperluan keluarga dan yang lain lain, padahal dari uang tersebut ada bagian untuk membeli lagi tambahan barang jualan misalnya. Ujung2-nya operasional bisnis jadi terganggu dan bisnis tidak berkembang kembang. Setelah sekian lama, dan kayaknya sudah berusaha sangat keras, kadang merasa hanya berputar putar saja, begini begini saja bisnisnya tidak ada improvement.
Hal itulah yang sering terjadi karena keuangan bisnis dan pribadi dicampur.

Sebenarnya bagaimana menentukan bagian atau hak si pemilik bisnis...
Uang yang menjadi hak pengusaha /pemilik bisnis skala kecil menengah ini bisa di tentukan melalui 2 pilihan :

                   GAJI bulanan                      
                           atau
                   PROSENTASE dari pendapatan